Kamis, 23 Oktober 2014

Kami sayang denganmu...



Ibu maafkan anakmu....
Anakmu tak bisa mengembalikan semua jasa-mu... 
Ku buka mata terlihat jam dinding masih menunjukan jam 2.30 dini hari, aku merasa tidur ku sudah cukup sudah lama akan tetapi pagi belum juga muncul. Malam itu serasa panjang dan aku tidak menikmati tidur ku itu. Ku lanjut tidur, buka mata aku tengok jam dinding menunjukan jam 04.00, lanjut tengok lagi jam 05.00 aku putuskan untuk bangun karena sepertinya tidak ada manfaat jika aku berbaring terus. 
Pagi akhirnya datang, perasaan ku bukan senang tapi bingung sedih tidak ada daya hidup seperti bangunan yang roboh. Pagi itu hati ku terasa pilu sesak terasa entah perasaan dari mana. Bukannya aku tidak bersyukur masih di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi perasaan ini teringat oleh perkataan dari ibu ku.
Kejadian itu bermula pada hari Senin pagi, pagi itu aku sedang menikmati secangkir Teh Panas dan menikmati pagi yang indah. Sembari itu, Aku menemani mba masak, ketika itu ibu menyuruh aku untuk mengecek gula pasir apakah ada ukuran yang 1/2Kg sebelum aku tengok ada suara bapak yang memberitahukan bahwa ukuran gula pasir tinggal yang 1Kg. Tapi demi untuk melegakan hati ibu, aku tengok saja dan alhasil yang ada memang yang infokan bapak benar adanya. Setelah itu ibu meminta aku untuk mencari plastik 1/2 Kg dan plastik yg di minta ibu itu tidak ada kecuali di toko baru ada. Karena aku tidak bisa menyanggupi atau tidak berhasil untuk mencarikan plastik 1/2 kg ibu marah besar dan menangis, sontak aku kaget ini masalah sepele kalo memang tidak ada nanti rada siang bisa beli atau beli gula pasir yg ukuran 1/2 kg. Dengan perasaan yang masih shok dengan perlakuan ibu, aku terima diam saja daripada aku salah lagi. tapi hati kecil ku serasa ada yang menganjal kayak tergores dengan amarah ibu. Dan aku masih terima perlakuan ibu yang saat itu bagiku yang tidak logis untuk di permasalahankan, toh ibu baru sakit jadi aku harus ekstra sabar menghadapi sikap ibu.
Setelah itu aku masuk kamar mau ambil baju persiapan mau mandi, dan saat itu juga ibu ada di samping kamar aku, tiba-tiba menangis dan berkata " apa aku salah minta tolong ke anak, aku minta gula pasir di paro kok gak bisa, apa kata-kata ku kurang jelas, pancen aku lagi stroke dan lidah ku terganggu jadi kalo bicara tidak jelas ", setelah mendengar perkataan itu aku langsung nyamperin mba, aku bertanya sekali lagi tentang permintaan ibu tadi dan dari jawaban mba aku simak benar-benar apa aku yang salah mendengar, ternyata apa yang aku dengar sama persis dengan apa yang di dengar oleh mba.
Saat itu entah darimana aku tambah bersikap diem serasa sakit hati mendengar kata-kata dari ibu, kenapa beda?, jujur aku sering di perlakukan seperti itu oleh ibu ku dan aku tahan, tapi pada saat itu perasaan hati ku sedang sensitif dan benar-benar sakit. semenjak itu aku lebih baik diam supaya ibu sekali aja berani mengucapkan jujur ke aku dan mengakui kesalahan atau memang ini salah paham.
Waktu seakan berjalan cepat hari itu, setelah selesai aku di tempat pernikahan temanku aku berencana untuk kembali ke kost saja untuk meredam amarah ku atau menenagkan hati ku. Sepulangnya aku dari tempat temen tiba-tiba ibu berkata ngalor-ngidul yang ngak ada jungtrungannya. Jika ibu berkata masih dalam koridor sebagai seorang ibu aku masih sangup mendengar, akan tetapi ini ibu berkata dengan menyakitkan hati dan masih teriang dari benak ku, sungguh sakit dan air mata tumpah tak sanggup aku tahan.
Pada saat itu aku seperti bangunan yang roboh kehilangan pondasi. Aku percaya dan aku tahu diri bahwa sampai mati pun aku tidak bakal bisa membalas semua apa yang di berikan oleh ibuku. Aku percaya bahwa untuk melarikan ibu bertarung nyawa, biaya hidup dari bayi sampai sekarang sangat mahal belum di tambah biaya pendidikan, Dan aku pecaya aku enggak bakalan sanggup untuk bisa mengembalikan semua itu bahkan membalasnya sampai aku mati pun aku tak akan sanggup. Dan jika itu di hitung secara finansial dan untuk diminta kembali jujur aku tak akan sanggup dengan nyawa pun aku tak akan dapat bisa menutup semuanya. Hal itu masih aku terapkam dalam hidupku, hanya rasa kasih sayang tulus yang bisa aku berikan kepada ibu ku bukan finansial. Aku sadar aku bukan anak kebanggaan ibu, tapi aku berusaha dengan kemampuanku supaya bisa di banggakan.
Dalam hidup apa yang aku kerjakan, baik itu untuk mengejar mimpi ku hasilnya aku dedikasikan untuk orangtuaku terutama untuk ibu. Supaya  ibu senang dengan aku, supaya ibu bisa memberikan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan kasih sayang antara ibu ke anak. Jika dengan aku banyak uang, aku rela mencari tempat kerja yang bisa membuat bangga dan tidak memalukan ibu ku serta menghasilkan uang banyak asal tempat itu halal supaya nanti aku bisa mempertanggungjawabkan kepada Tuhanku. Selama ini yang aku cari dari ibu hanya rasa sayang, tulus, dan perhatian antara ibu dan anak yang aku cari dari sosok ibu ku bukan sekedar finansial. Aku ingin di peluk, aku ingin di sayang, aku ingin di belai, aku ingin di support saat aku down, aku ingin berbagi keluh kesah kebahagian aku ingin berbagi semuanya sama ibuku.
Setelah kejadian itu, hati ini hancur. Hanya air mata yang bicara dan yang bisa mengartikan semuanya. kebingunggan hidup yang ada di benakku. Ketakutan hidup dalam menjalani mengarungi sisa kontrak yang di berikan oleh Tuhan. Berjalan seperti tidak ada kekuatan. Jujur aja dalam keadaan seperti ini aku pengen megakhiri hidupku jika itu tidak berdosa dan tidak membuat Tuhan marah.
Sampai detik ini, amarahku, tangisku, dan kebimbanganku tak menyurutkan rasa sayang tulusku untuk ibu ku. Peristiwa itu tidak mengubah prosentase atau kuota atau apalah tentang sayang aku dengan ibuku. Rasa sayang ku melebihi nyawa dalam hidupku.
Tuhan....sampaikanlah sayang tulus aku untuk ibu-ku, dan sampaikanlah permintaan maafku karena belum bisa mengembalikan semua yang di berikan oleh ibuku sehingga di waktu tuanya ibu ku belum bisa menikmati uang hasil kerja keras beliau.

Ibu....
Anakmu sungguh sayang dengan mu...
Anakmu tulus sayang dengan mu...
Anakmu sadar betul, bahwa kami tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu..
Ibu....
Maafkan anakmu yang tak sadar kadang mengeluh dalam merawatmu...
Kami hanya manusia biasa...
Kami rela merawatmu dengan keadaan sekarang
Ini semua karena bakti anakmu untukmu bu...
Ibu...
Salah jika engkau mengira kami telah lelah dalam merawat dalam sakitmu..
Permintaan ibu untuk ke Panti Werda sungguh menyakiti hati kami..
Dan perkataan itu sungguh mengores hati anakmu bu...
Ibu...
Walau seperti itu rasa sayang ini tidak akan pernah berkurang..
Anakmu sayang dengan mu bu...
Pinta ku cuma, bagi sedikit rasa sayang mu kepadaku bu...


Kami sayang denganmu...

Ibu maafkan anakmu....
Anakmu tak bisa mengembalikan semua jasa-mu... 
Ku buka mata terlihat jam dinding masih menunjukan jam 2.30 dini hari, aku merasa tidur ku sudah cukup sudah lama akan tetapi pagi belum juga muncul. Malam itu serasa panjang dan aku tidak menikmati tidur ku itu. Ku lanjut tidur, buka mata aku tengok jam dinding menunjukan jam 04.00, lanjut tengok lagi jam 05.00 aku putuskan untuk bangun karena sepertinya tidak ada manfaat jika aku berbaring terus. 
Pagi akhirnya datang, perasaan ku bukan senang tapi bingung sedih tidak ada daya hidup seperti bangunan yang roboh. Pagi itu hati ku terasa pilu sesak terasa entah perasaan dari mana. Bukannya aku tidak bersyukur masih di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi perasaan ini teringat oleh perkataan dari ibu ku.
Kejadian itu bermula pada hari Senin pagi, pagi itu aku sedang menikmati secangkir Teh Panas dan menikmati pagi yang indah. Sembari itu, Aku menemani mba masak, ketika itu ibu menyuruh aku untuk mengecek gula pasir apakah ada ukuran yang 1/2Kg sebelum aku tengok ada suara bapak yang memberitahukan bahwa ukuran gula pasir tinggal yang 1Kg. Tapi demi untuk melegakan hati ibu, aku tengok saja dan alhasil yang ada memang yang infokan bapak benar adanya. Setelah itu ibu meminta aku untuk mencari plastik 1/2 Kg dan plastik yg di minta ibu itu tidak ada kecuali di toko baru ada. Karena aku tidak bisa menyanggupi atau tidak berhasil untuk mencarikan plastik 1/2 kg ibu marah besar dan menangis, sontak aku kaget ini masalah sepele kalo memang tidak ada nanti rada siang bisa beli atau beli gula pasir yg ukuran 1/2 kg. Dengan perasaan yang masih shok dengan perlakuan ibu, aku terima diam saja daripada aku salah lagi. tapi hati kecil ku serasa ada yang menganjal kayak tergores dengan amarah ibu. Dan aku masih terima perlakuan ibu yang saat itu bagiku yang tidak logis untuk di permasalahankan, toh ibu baru sakit jadi aku harus ekstra sabar menghadapi sikap ibu.
Setelah itu aku masuk kamar mau ambil baju persiapan mau mandi, dan saat itu juga ibu ada di samping kamar aku, tiba-tiba menangis dan berkata " apa aku salah minta tolong ke anak, aku minta gula pasir di paro kok gak bisa, apa kata-kata ku kurang jelas, pancen aku lagi stroke dan lidah ku terganggu jadi kalo bicara tidak jelas ", setelah mendengar perkataan itu aku langsung nyamperin mba, aku bertanya sekali lagi tentang permintaan ibu tadi dan dari jawaban mba aku simak benar-benar apa aku yang salah mendengar, ternyata apa yang aku dengar sama persis dengan apa yang di dengar oleh mba.
Saat itu entah darimana aku tambah bersikap diem serasa sakit hati mendengar kata-kata dari ibu, kenapa beda?, jujur aku sering di perlakukan seperti itu oleh ibu ku dan aku tahan, tapi pada saat itu perasaan hati ku sedang sensitif dan benar-benar sakit. semenjak itu aku lebih baik diam supaya ibu sekali aja berani mengucapkan jujur ke aku dan mengakui kesalahan atau memang ini salah paham.
Waktu seakan berjalan cepat hari itu, setelah selesai aku di tempat pernikahan temanku aku berencana untuk kembali ke kost saja untuk meredam amarah ku atau menenagkan hati ku. Sepulangnya aku dari tempat temen tiba-tiba ibu berkata ngalor-ngidul yang ngak ada jungtrungannya. Jika ibu berkata masih dalam koridor sebagai seorang ibu aku masih sangup mendengar, akan tetapi ini ibu berkata dengan menyakitkan hati dan masih teriang dari benak ku, sungguh sakit dan air mata tumpah tak sanggup aku tahan.
Pada saat itu aku seperti bangunan yang roboh kehilangan pondasi. Aku percaya dan aku tahu diri bahwa sampai mati pun aku tidak bakal bisa membalas semua apa yang di berikan oleh ibuku. Aku percaya bahwa untuk melarikan ibu bertarung nyawa, biaya hidup dari bayi sampai sekarang sangat mahal belum di tambah biaya pendidikan, Dan aku pecaya aku enggak bakalan sanggup untuk bisa mengembalikan semua itu bahkan membalasnya sampai aku mati pun aku tak akan sanggup. Dan jika itu di hitung secara finansial dan untuk diminta kembali jujur aku tak akan sanggup dengan nyawa pun aku tak akan dapat bisa menutup semuanya. Hal itu masih aku terapkam dalam hidupku, hanya rasa kasih sayang tulus yang bisa aku berikan kepada ibu ku bukan finansial. Aku sadar aku bukan anak kebanggaan ibu, tapi aku berusaha dengan kemampuanku supaya bisa di banggakan.
Dalam hidup apa yang aku kerjakan, baik itu untuk mengejar mimpi ku hasilnya aku dedikasikan untuk orangtuaku terutama untuk ibu. Supaya  ibu senang dengan aku, supaya ibu bisa memberikan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan kasih sayang antara ibu ke anak. Jika dengan aku banyak uang, aku rela mencari tempat kerja yang bisa membuat bangga dan tidak memalukan ibu ku serta menghasilkan uang banyak asal tempat itu halal supaya nanti aku bisa mempertanggungjawabkan kepada Tuhanku. Selama ini yang aku cari dari ibu hanya rasa sayang, tulus, dan perhatian antara ibu dan anak yang aku cari dari sosok ibu ku bukan sekedar finansial. Aku ingin di peluk, aku ingin di sayang, aku ingin di belai, aku ingin di support saat aku down, aku ingin berbagi keluh kesah kebahagian aku ingin berbagi semuanya sama ibuku.
Setelah kejadian itu, hati ini hancur. Hanya air mata yang bicara dan yang bisa mengartikan semuanya. kebingunggan hidup yang ada di benakku. Ketakutan hidup dalam menjalani mengarungi sisa kontrak yang di berikan oleh Tuhan. Berjalan seperti tidak ada kekuatan. Jujur aja dalam keadaan seperti ini aku pengen megakhiri hidupku jika itu tidak berdosa dan tidak membuat Tuhan marah.
Sampai detik ini, amarahku, tangisku, dan kebimbanganku tak menyurutkan rasa sayang tulusku untuk ibu ku. Peristiwa itu tidak mengubah prosentase atau kuota atau apalah tentang sayang aku dengan ibuku. Rasa sayang ku melebihi nyawa dalam hidupku.
Tuhan....sampaikanlah sayang tulus aku untuk ibu-ku, dan sampaikanlah permintaan maafku karena belum bisa mengembalikan semua yang di berikan oleh ibuku sehingga di waktu tuanya ibu ku belum bisa menikmati uang hasil kerja keras belia dan saya.

Ibu....
Anakmu sungguh sayang dengan mu...
Anakmu tulus sayang dengan mu...
Anakmu sadar betul, bahwa kami tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu..
Ibu....
Maafkan anakmu yang tak sadar kadang mengeluh dalam merawatmu...
Kami hanya manusia biasa...
Kami rela merawatmu dengan keadaanmu sekarang
Ini semua karena bakti anakmu untukmu bu...
Ibu...
Salah jika engkau mengira kami telah lelah dalam merawat dalam sakitmu..
Permintaan ibu untuk ke Panti Werda sungguh menyakiti hati kami..
Dan perkataan itu sungguh mengores hati anakmu bu...
Ibu...
Walau seperti itu rasa sayang ini tidak akan pernah berkurang..
Anakmu sayang dengan mu bu...
Pinta ku cuma, bagi sedikit rasa sayang mu untukku bu...


Kamis, 06 Februari 2014

I LOVE YOU MOM



I Love You Mom
Nama ku Arum lahir dari rahim seorang wanita yang kurang aku sayangi dan aku perhatikan khususnya kesehtan beliau. Wanita tersebut bernama Partilah. Beliau seorang pensiunan Guru SD yang banyak di kagumi orang dan di ingat jasa-jasanya, saat beliau pensiun pun banyak murid yang masih ingat bahkan mau menyalami dan mengucapkan terimakasih karena telah bersedia menjadi guru bagi mereka. Sedangkan aku yang anak nya beliau tidak bisa melihat itu bahkan tidak dapat mengaguminya, hanya kekesalan dan kesebalan yang bisa aku lihat bisa di katakan sebaliknya dari kacamata orang lain. Sungguh sangat miris sifat dan sikap ku ini.

Al kisah masa lalu aku dengan ibu ku
Dulu aku sangat benci dengan ibu ku bahkan aku sering memberontak sering membangkang bahkan tidak mau mendengarkan ibu ku. Ibu ku dulu sangat kelihatan sekali membedakan sikap dan sifat nya ke anak satu dengan anak yang lainnya khususnya kasih sayang nya. Ibu ku sangat menyayangi anak pertama dan anak lelakinya seolah olah ibuku tidak punya anak perempuan. Beda banget sikap ibu dalam memberikan kasih sayang dengan anak-anak nya, itu sangat aku rasakan sekali, sehingga aku menjadi anak yang keras kepala.
Ibuku sangat keras dan bisa di katakan mendoktrin anak perempuannya. Anak perempuannya di didik dengan sangat keras harus bisa ini harus bisa itu. Apapun yang di lakukan anak perempuan harus sesuai dan keinginan beliau entah itu suka atau tidak. Dalam hal pendidikan pun ikut campur kami anak perempuan tidak boleh memilih sedangkan anak laki-laki nya di bebaskan untuk memilih.
Suatu hari aku luluh karena sudah capek dengan sikap ibu ku yang selalu mendoktrin aku. Setelah lulus SMA aku menuruti semua keinginan ibuku dalam hal memilih pendidikan selanjutnya. Aku memilih pendidikan yang di inginkan ibu ku yaitu jalur untuk menjadi guru, sedangkan pada waktu itu aku sangat meninginkan pendidikan Akuntansi. Aku buat perencanaan masa depan ku dengan rapi dan apik dan tetap mengikuti keinginan ibuku. Tapi Tuhan berkata lain semua jalur pendidikan (untuk GURU) aku gagal semuanya bahkan aku sempat down dan benar-benar hancur karena gagal. Aku takut jika aku tak bisa melanjutkan jenjang pendidikan.
Tapi ketakutan ku itu sirna bapak memperbolehkan aku memilih jalur pendidikan yang aku sukai.  Dan saat itu aku tidak menyia-yiakan pendidikan tersebut, saat kuliah bisa di katakan kepandaianku  meningkat tajam sampai-sampai orang tua ku tidak percaya. Dan mulai dari itu ibu ku mulai memberikan pengertian dan mendukung aku. Walau setelah lulus tetap ibu ku mendoktrin aku dalam hal pekerjaan. Ibu ku meninginkan aku menjadi PNS. Pada saat itu aku mulai berontak karena aku bangga menjadi karyawan swasta yang mandiri tanpa bergantung dengan pemerintahan yang busuk. Aku buktikan pelan-pelan dengan menjadi karyawan swasta pun bisa hidup. Aku buktikan itu. Dan puncak karir ku di tahun 2012 ibuku mulai bangga dengan aku yang bisa mandiri dan kuat. Seorang perempuan yang mempunyai tekad melebihi seorang laki-laki.
Saat itu ibuku mulai mengerti aku mendukung aku. Saat aku mendapat kepercayaan itu sungguh sangat ironis di tahun 2013 karir ku hancur karena ada salah satu karyawan yang sok jadi pahlawan kesiangan. Bisa di katakan karir yang aku baru bangga kan ke ibu ku hancur. Jujur aku malu aku binggung harus bersikap apa. Aku tetap kuat dan tetap seperti biasa walau sebenarnya berat aku rasakan.
Saat kehancuran itu aku berpikir keras dan merenung, sepertinya aku salah selama ini. Penyesalan mulai menghantui ku. Kata “pengandaian” pun mulai muncul, “andai saja aku nurut dengan ibu ku pada waktu itu berusaha mendaftar PNS dan berusaha dengan sungguh-sungguh pasti aku tidak akan terpuruk seperti ini”. Memang tanpa kita sadari sikap keras orang tua kita ada benarnya. Mereka bersikap keras karena meninginkan kita untuk mendapatkan yang terbaik di masa depannya. Kadang itu yang tidak bisa kita lihat.
Tepat pertengahan tahun 2013 aku mulai terbuka hati ku untuk menuruti setiap nasehat dari orang tua ku. Saat itu aku mulai mencerna setiap  nasehat dan kata-kata orang tua ku. Dan bisa di katakan aku mulai berdamai dengan sikap dan sifat mereka. Aku sadar kalau cara berpikir aku dengan beliau berbeda. Aku hidup di masa kini sedangkan mereka di masa mereka jadi sikap pengertian lah yang akan menyelesaikan bukan sikap keras dan ego. Mulai saat itu pengertian dan sikap saling mendukung mulai muncul khususnya dari seorang Ibu ku.
Tahun 2013 aku ingin mewujudkan impian ibu dan bapak yang meninginkan anaknya menjadi seorang PNS. Aku mencoba perutungan di jalur tersebut, setiap langkah yang aku ambil aku minta doa restu supaya di lancarkan jalannya. Saat itu sungguh sangat indah suasananya. Aku dekat dengan mereka dengan ibu dan bapak sungguh pemandangan yang sangat indah. Tapi sayang tahun ini pun aku gagal mewujudkan keinginan mereka. Aku tak lolos dalam penjaringan seleksi PNS. Aku pun meminta maaf karena belum bisa mewujudkan impian mereka. Jujur sedih banget pada saat itu sungguh aku ingin nangis dan marah dengan keadaan, bahkan sempat marah dengan Tuhan, kenapa tidak di kabulkan doa aku tuk membahagiakan ibu bapak aku di usia nya yang senja.
Sedih yups aku sangat sedih dengan kegagalan aku, walau meraka ( bapak ibu) tetap menghiburku dan berkata “belum rejeki dek kalau sudah rejeki pasti Allah akan kasihkan itu ke kamu, Allah tidak akan salah dalam memberikan rejeki ke umatnya” saat mendengarkan kata-kata itu antara mau sedih atau senang atau terharu aku binggung yang kurasakan hanya bergetar dan begetar sangat kencang jantung hati ku. Sangat bijak sekali mereka. Saat itu aku meminta maaf dan memeluk ibu ku dan seraya berkata “ ibu maaf kan anak mu ini yang belum bisa membahagiakan dan belum bisa menjadi anak harapan mu, aku belum bisa menjadi PNS sesuai keinginan ibu dan belum bisa memberikan mantu dan cucu (belum menikah)” . dan saat itu aku menangis di pelukan ibu sampai tertidur pulas di pelukan ibu bagaikan anak kecil kembali.
Kesedihan ku pun belum mau pindah dan hijrah dari diriku. Ibu yang sebelumnya sehat dan suka sekali beraktivitas dan suka melihat anaknya pergi bekerja sampai menghilang dari pandanganya setelah berpamitan tiba-tiba sakit. Tepat tanggal 13 Januari 2014 (masih awal tahun) Ibu sakit stroke.  Sungguh mengagetkan kami semua. Ibu sakit yang bener-bener parah, lumpuh tak bisa berjalan tak bisa beraktivitas bahkan memeluk membelai rambutku aja tak bisa. Air mataku tak dapat terbendung saat dokter menyatakan ibu mengalami stroke. Saat itu aku ingin marah dengan keadaan seraya berkata “Tuhan Cobaan apalagi yang sedang kau berikan kepada ku, aku telah GAGAL mewujudkan impian ibuku menjadi PNS, Aku belum juga diberikan Jodoh dan menikah, dan sekarang ibuku kau berikan penyakit stroke, Tuhan jujur berat berat sekali Tuhan”.
Saat itu aku mulai gampang emosi aku gampang menangis bahkan saat ingat dengan ibu yang ada aku hanya menangis. Saat itu kondisi ku naik turun, saat itu salah satu dokter menasehati ku untuk kuat untuk bisa mengendalikan emosi. Di depan ibu di usahakan jangan panik jangan bersedih harus kuat. Saat itu pula dokter memberikan aku penjelasan yang sangat mendetail kodisi kesehatan ibu. Di otak ibu ku mengalami penyumbatan dan mengakibatkan kerusakan gerak motoriknya. Untuk peyembuhan ibu tidak bisa cepat paling cepat 6 bulan jika bisa cepat pun itu karena mujizat Tuhan. Saat mendengar itu aku kanget bukan kepalang tapi dokter menasehati aku aku harus bersabar aku harus kuat dan jangan panik. Bantu ibu untuk kuat.
Hari demi hari aku lewati dengan berat, air mata pun selalu tumpah. Di kantor pun  berusaha untuk tegar dan selau berusaha tersenyum dan jika sendiri pasti Air mata ini tumpah dan ingat dengan ibu. Setelah berjalannya waktu aku mulai menerima keadaan ini, Allah memberikan ini karena aku kuat karena Allah sayang sama Aku.
Ikhtiar, usaha dan doa kami usahakan untuk kesembuahan ibu kami, ibu yang kami sayangi. Tepat hari minggu sepulang aku dari kerja tepat tanggal 02 februari 2013 kondisi ibu turun dratis tensi ibu naik dratis sampai menembus 190/100 sangat tinggi dan mengharuskan di bawa kerumah sakit. Saat itu pula aku mulai down kembali perasaan ku mulai berkecamuk kembali. Tapi dalam hati kecil ku mulai berkata “jangan kalah dengan keadaan aku pasti kuat aku pasti bisa menghadapi ini semua’’. Aku mulai menghadapi ini semua dengan senyuman dengan hati lapang dengan strategi yang baru.
Saat-saat sulit itu kembali banyak kemudahan yang kami dapat, kami dapat dokter yang bisa menguatkan kami, suster yang baik yang setia mendampingi kami saat kebingungan. Kami melewati RS ke 2 dengan tegar dengan lapang dan dengan taktik baru. Kami (pada saat itu yang ada hanya bapak mba da aku) saat itu berkata kepada ibu yang sedang mengalami penurunan kesehatan “ ibu...sakit ibu sakit kami juga ibu punya kami jadi sakit ibu kita hadapi bersama-sama ibu tidak sendirian, jadi ibu yang sabar ibu yang kuat ibu yang semangat ibu pasti sembuh, Allah melihat kita ibu Allah melihat usaha kita ibu, ibu pasti sembuh, inilah waktu mencari ridho dan pahala dari Allah jika kita iklas. Saling mendoakan dan berusaha ya ibu” saat itu ibu mulai tersenyum saat ibu mulai bisa tertawa. Bagi kami itu suatu perkembangan yang berarti.
Saat melihat ibu bisa tersenyum dan tertawa
Tepat Tanggal 03 Februari hari senin aku bela-bela’in ijin kerja demi menjaga ibu ku. Yang ada di bayangan aku tak ingin menyesal di kemudian hari, selagi ada waktu aku pasti akan merawat ibu waktu ku hanya untuk ibu. Saat itu aku mengenakan baju yang mirip untuk kampaye JOKOWI alias kotak-kotak. Aku saat itu bergaya ala JOKOWI yang suka blusukan, saat itu ibu ku tertawa dan terhibur. Semua yang ada di situ tertawa mba bapak dan lebih-lebih ibu bisa tertawa dengan tingkah aku. Saat itu aku senang bisa menghibur ibu ku bisa membuat tertawa. Itu merupakan obat bagiku dan bagi ibu ku.
Waktu mulai berlalu langit pun mulai gelap saat itu aku pandang dari lantai 3 RS SARJITO dan ibu mulai akan tidur, sesaat akan tidur ibu mulai merasakan sakit yang sangat hebat lagi tepat nya di bagian sebelah kanan yang lumpuh. Aku pun panik dan memangil dokter, dan seketika setelah di periksa dokter pun tak ada efek pengaruh apapun ibu masih merasakan kesakitan dan seraya akan menangis. Tak sengaja aku terceletuk “sambil aku elus-elus bagian yang sakit aku celetuk ‘hus hus sakit nya hilang sakitnya pergi hus hus hus kodok e menculat lungo kono , saat itu ibu ku tertawa dan bilang “wolah dasar JOKOWI sing lagi blusukan” sesaat itu semua yang ada di situ tertawa kembali dan ibu lupa akan sakitnya. Dalam hati yeee bisa menengkan ibu tanpa obat.
Hari demi hari aku lewati di RS Sarjito dan sampai akhirnya ibu ku di nyatakan boleh pulang. Kami hadapi kondisi itu dengan tenang kami hadapi dengan senyuman kami jalani dan berusaha untuk iklas menerima semua ini. Ibu mulai menerima dan setiap melihat ku selalu tertawa, saat sakit pun bisa terkalahkan jika aku berbuat yang sangat aneh dan lucu.
Setiap waktu aku tak ingin lewatkan untuk memantau kondisi ibu ku. Walau kadang hanya lewat telepon genggam. Dan setiap waktu aku berusaha untuk bersyukur kepada sang pencipta Allah swt yang masih memberikan waktu untuk aku merawat dan menyayangi ibu ku. Aku masih sangat berutung masih di berikan waktu untuk memberikan yang terbaik untuk ibu ku. Walau kadang penyesalan sering menghatuiku yang kurang memperhatikan kesehatan ibu.  
Ibu maafin anak mu ini ya... yang enggak peka dengan kesehatan ibu, andai saja waktu itu aku peka dan segera bawa ibu untuk cek up terus ke dokter pasti ibu tidak akan berakibat fatal seperti ini. Ibu walau bisa di katakan telat dalam hati Arum yang paling tulus, Arum sayang sama ibu, Maaf ibu Arum belum bisa membalas dan mewujudkan impian ibu. Setulus sayang untuk mu ibu dan sebait doa “ Ya Allah Angkat lah segera penyakit ibu hamba berikan kesembuhan untuk ibu hamba dan kuatkan lah ibu dan kami semua untuk menghadapi ujian-Mu ini, serta ijinkan aku untuk membahagiakan ibu hamba dengan mewujudkan impian nya Ya Allah ( impian ibu: saya bisa bekerja di jalur PNS dan melihat saya menjadi pengantin).
IBU ARUM SAYANG SAMA IBU, PELUK CIUM UNTUKMU IBU......LOVE U