Ibu maafkan anakmu....
Anakmu tak bisa mengembalikan semua
jasa-mu...
Ku buka mata terlihat jam dinding masih menunjukan
jam 2.30 dini hari, aku merasa tidur ku sudah cukup sudah lama akan tetapi pagi
belum juga muncul. Malam itu serasa panjang dan aku tidak menikmati tidur ku
itu. Ku lanjut tidur, buka mata aku tengok jam dinding menunjukan jam 04.00,
lanjut tengok lagi jam 05.00 aku putuskan untuk bangun karena sepertinya tidak
ada manfaat jika aku berbaring terus.
Pagi akhirnya datang, perasaan ku bukan senang tapi
bingung sedih tidak ada daya hidup seperti bangunan yang roboh. Pagi itu hati
ku terasa pilu sesak terasa entah perasaan dari mana. Bukannya aku tidak
bersyukur masih di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi perasaan ini
teringat oleh perkataan dari ibu ku.
Kejadian itu bermula pada hari Senin pagi, pagi itu
aku sedang menikmati secangkir Teh Panas dan menikmati pagi yang indah. Sembari
itu, Aku menemani mba masak, ketika itu ibu menyuruh aku untuk mengecek gula pasir
apakah ada ukuran yang 1/2Kg sebelum aku tengok ada suara bapak yang
memberitahukan bahwa ukuran gula pasir tinggal yang 1Kg. Tapi demi untuk
melegakan hati ibu, aku tengok saja dan alhasil yang ada memang yang infokan
bapak benar adanya. Setelah itu ibu meminta aku untuk mencari plastik 1/2 Kg
dan plastik yg di minta ibu itu tidak ada kecuali di toko baru ada. Karena aku
tidak bisa menyanggupi atau tidak berhasil untuk mencarikan plastik 1/2 kg ibu
marah besar dan menangis, sontak aku kaget ini masalah sepele kalo memang tidak
ada nanti rada siang bisa beli atau beli gula pasir yg ukuran 1/2 kg. Dengan
perasaan yang masih shok dengan perlakuan ibu, aku terima diam saja daripada
aku salah lagi. tapi hati kecil ku serasa ada yang menganjal kayak tergores
dengan amarah ibu. Dan aku masih terima perlakuan ibu yang saat itu bagiku yang
tidak logis untuk di permasalahankan, toh ibu baru sakit jadi aku harus ekstra
sabar menghadapi sikap ibu.
Setelah itu aku masuk kamar mau ambil baju
persiapan mau mandi, dan saat itu juga ibu ada di samping kamar aku, tiba-tiba
menangis dan berkata " apa aku salah minta tolong ke anak, aku minta gula
pasir di paro kok gak bisa, apa kata-kata ku kurang jelas, pancen aku lagi
stroke dan lidah ku terganggu jadi kalo bicara tidak jelas ", setelah
mendengar perkataan itu aku langsung nyamperin mba, aku bertanya sekali lagi
tentang permintaan ibu tadi dan dari jawaban mba aku simak benar-benar apa aku
yang salah mendengar, ternyata apa yang aku dengar sama persis dengan apa yang
di dengar oleh mba.
Saat
itu entah darimana aku tambah bersikap diem serasa sakit hati mendengar
kata-kata dari ibu, kenapa beda?, jujur aku sering di perlakukan seperti itu
oleh ibu ku dan aku tahan, tapi pada saat itu perasaan hati ku sedang sensitif
dan benar-benar sakit. semenjak itu aku lebih baik diam supaya ibu sekali aja
berani mengucapkan jujur ke aku dan mengakui kesalahan atau memang ini salah
paham.
Waktu
seakan berjalan cepat hari itu, setelah selesai aku di tempat pernikahan
temanku aku berencana untuk kembali ke kost saja untuk meredam amarah ku atau
menenagkan hati ku. Sepulangnya aku dari tempat temen tiba-tiba ibu berkata
ngalor-ngidul yang ngak ada jungtrungannya. Jika ibu berkata masih dalam
koridor sebagai seorang ibu aku masih sangup mendengar, akan tetapi ini ibu
berkata dengan menyakitkan hati dan masih teriang dari benak ku, sungguh sakit
dan air mata tumpah tak sanggup aku tahan.
Pada
saat itu aku seperti bangunan yang roboh kehilangan pondasi. Aku percaya dan
aku tahu diri bahwa sampai mati pun aku tidak bakal bisa membalas semua apa
yang di berikan oleh ibuku. Aku percaya bahwa untuk melarikan ibu bertarung
nyawa, biaya hidup dari bayi sampai sekarang sangat mahal belum di tambah biaya
pendidikan, Dan aku pecaya aku enggak bakalan sanggup untuk bisa mengembalikan
semua itu bahkan membalasnya sampai aku mati pun aku tak akan sanggup. Dan jika
itu di hitung secara finansial dan untuk diminta kembali jujur aku tak akan
sanggup dengan nyawa pun aku tak akan dapat bisa menutup semuanya. Hal itu
masih aku terapkam dalam hidupku, hanya rasa kasih sayang tulus yang bisa aku
berikan kepada ibu ku bukan finansial. Aku sadar aku bukan anak kebanggaan ibu,
tapi aku berusaha dengan kemampuanku supaya bisa di banggakan.
Dalam
hidup apa yang aku kerjakan, baik itu untuk mengejar mimpi ku hasilnya aku
dedikasikan untuk orangtuaku terutama untuk ibu. Supaya ibu senang dengan aku, supaya ibu bisa
memberikan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan kasih sayang antara ibu ke
anak. Jika dengan aku banyak uang, aku rela mencari tempat kerja yang bisa
membuat bangga dan tidak memalukan ibu ku serta menghasilkan uang banyak asal
tempat itu halal supaya nanti aku bisa mempertanggungjawabkan kepada Tuhanku.
Selama ini yang aku cari dari ibu hanya rasa sayang, tulus, dan perhatian
antara ibu dan anak yang aku cari dari sosok ibu ku bukan sekedar finansial. Aku
ingin di peluk, aku ingin di sayang, aku ingin di belai, aku ingin di support
saat aku down, aku ingin berbagi keluh kesah kebahagian aku ingin berbagi
semuanya sama ibuku.
Setelah
kejadian itu, hati ini hancur. Hanya air mata yang bicara dan yang bisa
mengartikan semuanya. kebingunggan hidup yang ada di benakku. Ketakutan hidup
dalam menjalani mengarungi sisa kontrak yang di berikan oleh Tuhan. Berjalan
seperti tidak ada kekuatan. Jujur aja dalam keadaan seperti ini aku pengen
megakhiri hidupku jika itu tidak berdosa dan tidak membuat Tuhan marah.
Sampai
detik ini, amarahku, tangisku, dan kebimbanganku tak menyurutkan rasa sayang
tulusku untuk ibu ku. Peristiwa itu tidak mengubah prosentase atau kuota atau
apalah tentang sayang aku dengan ibuku. Rasa sayang ku melebihi nyawa dalam
hidupku.
Tuhan....sampaikanlah
sayang tulus aku untuk ibu-ku, dan sampaikanlah permintaan maafku karena belum
bisa mengembalikan semua yang di berikan oleh ibuku sehingga di waktu tuanya
ibu ku belum bisa menikmati uang hasil kerja keras belia dan saya.
Ibu....
Anakmu sungguh
sayang dengan mu...
Anakmu tulus
sayang dengan mu...
Anakmu sadar
betul, bahwa kami tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu..
Ibu....
Maafkan anakmu
yang tak sadar kadang mengeluh dalam merawatmu...
Kami hanya
manusia biasa...
Kami rela
merawatmu dengan keadaanmu sekarang
Ini semua
karena bakti anakmu untukmu bu...
Ibu...
Salah jika
engkau mengira kami telah lelah dalam merawat dalam sakitmu..
Permintaan ibu
untuk ke Panti Werda sungguh menyakiti hati kami..
Dan perkataan
itu sungguh mengores hati anakmu bu...
Ibu...
Walau
seperti itu rasa sayang ini tidak akan pernah berkurang..
Anakmu sayang
dengan mu bu...
Pinta ku cuma,
bagi sedikit rasa sayang mu untukku bu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar