Kamis, 23 Oktober 2014

Kami sayang denganmu...



Ibu maafkan anakmu....
Anakmu tak bisa mengembalikan semua jasa-mu... 
Ku buka mata terlihat jam dinding masih menunjukan jam 2.30 dini hari, aku merasa tidur ku sudah cukup sudah lama akan tetapi pagi belum juga muncul. Malam itu serasa panjang dan aku tidak menikmati tidur ku itu. Ku lanjut tidur, buka mata aku tengok jam dinding menunjukan jam 04.00, lanjut tengok lagi jam 05.00 aku putuskan untuk bangun karena sepertinya tidak ada manfaat jika aku berbaring terus. 
Pagi akhirnya datang, perasaan ku bukan senang tapi bingung sedih tidak ada daya hidup seperti bangunan yang roboh. Pagi itu hati ku terasa pilu sesak terasa entah perasaan dari mana. Bukannya aku tidak bersyukur masih di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi perasaan ini teringat oleh perkataan dari ibu ku.
Kejadian itu bermula pada hari Senin pagi, pagi itu aku sedang menikmati secangkir Teh Panas dan menikmati pagi yang indah. Sembari itu, Aku menemani mba masak, ketika itu ibu menyuruh aku untuk mengecek gula pasir apakah ada ukuran yang 1/2Kg sebelum aku tengok ada suara bapak yang memberitahukan bahwa ukuran gula pasir tinggal yang 1Kg. Tapi demi untuk melegakan hati ibu, aku tengok saja dan alhasil yang ada memang yang infokan bapak benar adanya. Setelah itu ibu meminta aku untuk mencari plastik 1/2 Kg dan plastik yg di minta ibu itu tidak ada kecuali di toko baru ada. Karena aku tidak bisa menyanggupi atau tidak berhasil untuk mencarikan plastik 1/2 kg ibu marah besar dan menangis, sontak aku kaget ini masalah sepele kalo memang tidak ada nanti rada siang bisa beli atau beli gula pasir yg ukuran 1/2 kg. Dengan perasaan yang masih shok dengan perlakuan ibu, aku terima diam saja daripada aku salah lagi. tapi hati kecil ku serasa ada yang menganjal kayak tergores dengan amarah ibu. Dan aku masih terima perlakuan ibu yang saat itu bagiku yang tidak logis untuk di permasalahankan, toh ibu baru sakit jadi aku harus ekstra sabar menghadapi sikap ibu.
Setelah itu aku masuk kamar mau ambil baju persiapan mau mandi, dan saat itu juga ibu ada di samping kamar aku, tiba-tiba menangis dan berkata " apa aku salah minta tolong ke anak, aku minta gula pasir di paro kok gak bisa, apa kata-kata ku kurang jelas, pancen aku lagi stroke dan lidah ku terganggu jadi kalo bicara tidak jelas ", setelah mendengar perkataan itu aku langsung nyamperin mba, aku bertanya sekali lagi tentang permintaan ibu tadi dan dari jawaban mba aku simak benar-benar apa aku yang salah mendengar, ternyata apa yang aku dengar sama persis dengan apa yang di dengar oleh mba.
Saat itu entah darimana aku tambah bersikap diem serasa sakit hati mendengar kata-kata dari ibu, kenapa beda?, jujur aku sering di perlakukan seperti itu oleh ibu ku dan aku tahan, tapi pada saat itu perasaan hati ku sedang sensitif dan benar-benar sakit. semenjak itu aku lebih baik diam supaya ibu sekali aja berani mengucapkan jujur ke aku dan mengakui kesalahan atau memang ini salah paham.
Waktu seakan berjalan cepat hari itu, setelah selesai aku di tempat pernikahan temanku aku berencana untuk kembali ke kost saja untuk meredam amarah ku atau menenagkan hati ku. Sepulangnya aku dari tempat temen tiba-tiba ibu berkata ngalor-ngidul yang ngak ada jungtrungannya. Jika ibu berkata masih dalam koridor sebagai seorang ibu aku masih sangup mendengar, akan tetapi ini ibu berkata dengan menyakitkan hati dan masih teriang dari benak ku, sungguh sakit dan air mata tumpah tak sanggup aku tahan.
Pada saat itu aku seperti bangunan yang roboh kehilangan pondasi. Aku percaya dan aku tahu diri bahwa sampai mati pun aku tidak bakal bisa membalas semua apa yang di berikan oleh ibuku. Aku percaya bahwa untuk melarikan ibu bertarung nyawa, biaya hidup dari bayi sampai sekarang sangat mahal belum di tambah biaya pendidikan, Dan aku pecaya aku enggak bakalan sanggup untuk bisa mengembalikan semua itu bahkan membalasnya sampai aku mati pun aku tak akan sanggup. Dan jika itu di hitung secara finansial dan untuk diminta kembali jujur aku tak akan sanggup dengan nyawa pun aku tak akan dapat bisa menutup semuanya. Hal itu masih aku terapkam dalam hidupku, hanya rasa kasih sayang tulus yang bisa aku berikan kepada ibu ku bukan finansial. Aku sadar aku bukan anak kebanggaan ibu, tapi aku berusaha dengan kemampuanku supaya bisa di banggakan.
Dalam hidup apa yang aku kerjakan, baik itu untuk mengejar mimpi ku hasilnya aku dedikasikan untuk orangtuaku terutama untuk ibu. Supaya  ibu senang dengan aku, supaya ibu bisa memberikan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan kasih sayang antara ibu ke anak. Jika dengan aku banyak uang, aku rela mencari tempat kerja yang bisa membuat bangga dan tidak memalukan ibu ku serta menghasilkan uang banyak asal tempat itu halal supaya nanti aku bisa mempertanggungjawabkan kepada Tuhanku. Selama ini yang aku cari dari ibu hanya rasa sayang, tulus, dan perhatian antara ibu dan anak yang aku cari dari sosok ibu ku bukan sekedar finansial. Aku ingin di peluk, aku ingin di sayang, aku ingin di belai, aku ingin di support saat aku down, aku ingin berbagi keluh kesah kebahagian aku ingin berbagi semuanya sama ibuku.
Setelah kejadian itu, hati ini hancur. Hanya air mata yang bicara dan yang bisa mengartikan semuanya. kebingunggan hidup yang ada di benakku. Ketakutan hidup dalam menjalani mengarungi sisa kontrak yang di berikan oleh Tuhan. Berjalan seperti tidak ada kekuatan. Jujur aja dalam keadaan seperti ini aku pengen megakhiri hidupku jika itu tidak berdosa dan tidak membuat Tuhan marah.
Sampai detik ini, amarahku, tangisku, dan kebimbanganku tak menyurutkan rasa sayang tulusku untuk ibu ku. Peristiwa itu tidak mengubah prosentase atau kuota atau apalah tentang sayang aku dengan ibuku. Rasa sayang ku melebihi nyawa dalam hidupku.
Tuhan....sampaikanlah sayang tulus aku untuk ibu-ku, dan sampaikanlah permintaan maafku karena belum bisa mengembalikan semua yang di berikan oleh ibuku sehingga di waktu tuanya ibu ku belum bisa menikmati uang hasil kerja keras beliau.

Ibu....
Anakmu sungguh sayang dengan mu...
Anakmu tulus sayang dengan mu...
Anakmu sadar betul, bahwa kami tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu..
Ibu....
Maafkan anakmu yang tak sadar kadang mengeluh dalam merawatmu...
Kami hanya manusia biasa...
Kami rela merawatmu dengan keadaan sekarang
Ini semua karena bakti anakmu untukmu bu...
Ibu...
Salah jika engkau mengira kami telah lelah dalam merawat dalam sakitmu..
Permintaan ibu untuk ke Panti Werda sungguh menyakiti hati kami..
Dan perkataan itu sungguh mengores hati anakmu bu...
Ibu...
Walau seperti itu rasa sayang ini tidak akan pernah berkurang..
Anakmu sayang dengan mu bu...
Pinta ku cuma, bagi sedikit rasa sayang mu kepadaku bu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar