I Love You Mom
Nama ku Arum
lahir dari rahim seorang wanita yang kurang aku sayangi dan aku perhatikan
khususnya kesehtan beliau. Wanita tersebut bernama Partilah. Beliau seorang
pensiunan Guru SD yang banyak di kagumi orang dan di ingat jasa-jasanya, saat
beliau pensiun pun banyak murid yang masih ingat bahkan mau menyalami dan
mengucapkan terimakasih karena telah bersedia menjadi guru bagi mereka. Sedangkan
aku yang anak nya beliau tidak bisa melihat itu bahkan tidak dapat mengaguminya,
hanya kekesalan dan kesebalan yang bisa aku lihat bisa di katakan sebaliknya
dari kacamata orang lain. Sungguh sangat miris sifat dan sikap ku ini.
Al kisah
masa lalu aku dengan ibu ku,
Dulu aku sangat benci dengan ibu ku bahkan aku
sering memberontak sering membangkang bahkan tidak mau mendengarkan ibu ku. Ibu ku
dulu sangat kelihatan sekali membedakan sikap dan sifat nya ke anak satu dengan
anak yang lainnya khususnya kasih sayang nya. Ibu ku sangat menyayangi anak
pertama dan anak lelakinya seolah olah ibuku tidak punya anak perempuan. Beda banget
sikap ibu dalam memberikan kasih sayang dengan anak-anak nya, itu sangat aku
rasakan sekali, sehingga aku menjadi anak yang keras kepala.
Ibuku sangat
keras dan bisa di katakan mendoktrin anak perempuannya. Anak perempuannya di
didik dengan sangat keras harus bisa ini harus bisa itu. Apapun yang di lakukan
anak perempuan harus sesuai dan keinginan beliau entah itu suka atau tidak. Dalam
hal pendidikan pun ikut campur kami anak perempuan tidak boleh memilih
sedangkan anak laki-laki nya di bebaskan untuk memilih.
Suatu hari
aku luluh karena sudah capek dengan sikap ibu ku yang selalu mendoktrin aku. Setelah
lulus SMA aku menuruti semua keinginan ibuku dalam hal memilih pendidikan
selanjutnya. Aku memilih pendidikan yang di inginkan ibu ku yaitu jalur untuk
menjadi guru, sedangkan pada waktu itu aku sangat meninginkan pendidikan Akuntansi.
Aku buat perencanaan masa depan ku dengan rapi dan apik dan tetap mengikuti
keinginan ibuku. Tapi Tuhan berkata lain semua jalur pendidikan (untuk GURU)
aku gagal semuanya bahkan aku sempat down dan benar-benar hancur karena gagal. Aku
takut jika aku tak bisa melanjutkan jenjang pendidikan.
Tapi ketakutan
ku itu sirna bapak memperbolehkan aku memilih jalur pendidikan yang aku sukai. Dan saat itu aku tidak menyia-yiakan
pendidikan tersebut, saat kuliah bisa di katakan kepandaianku meningkat tajam sampai-sampai orang tua ku
tidak percaya. Dan mulai dari itu ibu ku mulai memberikan pengertian dan
mendukung aku. Walau setelah lulus tetap ibu ku mendoktrin aku dalam hal
pekerjaan. Ibu ku meninginkan aku menjadi PNS. Pada saat itu aku mulai berontak
karena aku bangga menjadi karyawan swasta yang mandiri tanpa bergantung dengan
pemerintahan yang busuk. Aku buktikan pelan-pelan dengan menjadi karyawan
swasta pun bisa hidup. Aku buktikan itu. Dan puncak karir ku di tahun 2012
ibuku mulai bangga dengan aku yang bisa mandiri dan kuat. Seorang perempuan
yang mempunyai tekad melebihi seorang laki-laki.
Saat itu
ibuku mulai mengerti aku mendukung aku. Saat aku mendapat kepercayaan itu
sungguh sangat ironis di tahun 2013 karir ku hancur karena ada salah satu
karyawan yang sok jadi pahlawan kesiangan. Bisa di katakan karir yang aku
baru bangga kan ke ibu ku hancur. Jujur aku malu aku binggung harus bersikap
apa. Aku tetap kuat dan tetap seperti biasa walau sebenarnya berat aku rasakan.
Saat kehancuran
itu aku berpikir keras dan merenung, sepertinya aku salah selama ini. Penyesalan
mulai menghantui ku. Kata “pengandaian” pun mulai muncul, “andai saja aku nurut
dengan ibu ku pada waktu itu berusaha mendaftar PNS dan berusaha dengan
sungguh-sungguh pasti aku tidak akan terpuruk seperti ini”. Memang tanpa kita
sadari sikap keras orang tua kita ada benarnya. Mereka bersikap keras karena meninginkan
kita untuk mendapatkan yang terbaik di masa depannya. Kadang itu yang tidak
bisa kita lihat.
Tepat pertengahan
tahun 2013 aku mulai terbuka hati ku untuk menuruti setiap nasehat dari orang
tua ku. Saat itu aku mulai mencerna setiap
nasehat dan kata-kata orang tua ku. Dan bisa di katakan aku mulai
berdamai dengan sikap dan sifat mereka. Aku sadar kalau cara berpikir aku
dengan beliau berbeda. Aku hidup di masa kini sedangkan mereka di masa mereka
jadi sikap pengertian lah yang akan menyelesaikan bukan sikap keras dan ego. Mulai
saat itu pengertian dan sikap saling mendukung mulai muncul khususnya dari
seorang Ibu ku.
Tahun 2013
aku ingin mewujudkan impian ibu dan bapak yang meninginkan anaknya menjadi
seorang PNS. Aku mencoba perutungan di jalur tersebut, setiap langkah yang aku
ambil aku minta doa restu supaya di lancarkan jalannya. Saat itu sungguh sangat
indah suasananya. Aku dekat dengan mereka dengan ibu dan bapak sungguh
pemandangan yang sangat indah. Tapi sayang tahun ini pun aku gagal mewujudkan
keinginan mereka. Aku tak lolos dalam penjaringan seleksi PNS. Aku pun meminta
maaf karena belum bisa mewujudkan impian mereka. Jujur sedih banget pada saat
itu sungguh aku ingin nangis dan marah dengan keadaan, bahkan sempat marah
dengan Tuhan, kenapa tidak di kabulkan doa aku tuk membahagiakan ibu bapak aku
di usia nya yang senja.
Sedih yups
aku sangat sedih dengan kegagalan aku, walau meraka ( bapak ibu) tetap
menghiburku dan berkata “belum rejeki dek kalau sudah rejeki pasti Allah akan
kasihkan itu ke kamu, Allah tidak akan salah dalam memberikan rejeki ke umatnya”
saat mendengarkan kata-kata itu antara mau sedih atau senang atau terharu aku
binggung yang kurasakan hanya bergetar dan begetar sangat kencang jantung hati
ku. Sangat bijak sekali mereka. Saat itu aku meminta maaf dan memeluk ibu ku
dan seraya berkata “ ibu maaf kan anak mu ini yang belum bisa membahagiakan dan
belum bisa menjadi anak harapan mu, aku belum bisa menjadi PNS sesuai keinginan
ibu dan belum bisa memberikan mantu dan cucu (belum menikah)” . dan saat itu
aku menangis di pelukan ibu sampai tertidur pulas di pelukan ibu bagaikan anak
kecil kembali.
Kesedihan ku
pun belum mau pindah dan hijrah dari diriku. Ibu yang sebelumnya sehat dan suka
sekali beraktivitas dan suka melihat anaknya pergi bekerja sampai menghilang
dari pandanganya setelah berpamitan tiba-tiba sakit. Tepat tanggal 13 Januari
2014 (masih awal tahun) Ibu sakit stroke.
Sungguh mengagetkan kami semua. Ibu
sakit yang bener-bener parah, lumpuh tak bisa berjalan tak bisa beraktivitas
bahkan memeluk membelai rambutku aja tak bisa. Air mataku tak dapat terbendung
saat dokter menyatakan ibu mengalami stroke. Saat itu aku ingin marah dengan
keadaan seraya berkata “Tuhan Cobaan apalagi yang sedang kau berikan kepada ku,
aku telah GAGAL mewujudkan impian ibuku menjadi PNS, Aku belum juga diberikan
Jodoh dan menikah, dan sekarang ibuku kau berikan penyakit stroke, Tuhan jujur
berat berat sekali Tuhan”.
Saat itu aku
mulai gampang emosi aku gampang menangis bahkan saat ingat dengan ibu yang ada
aku hanya menangis. Saat itu kondisi ku naik turun, saat itu salah satu dokter
menasehati ku untuk kuat untuk bisa mengendalikan emosi. Di depan ibu di
usahakan jangan panik jangan bersedih harus kuat. Saat itu pula dokter
memberikan aku penjelasan yang sangat mendetail kodisi kesehatan ibu. Di otak
ibu ku mengalami penyumbatan dan mengakibatkan kerusakan gerak motoriknya. Untuk
peyembuhan ibu tidak bisa cepat paling cepat 6 bulan jika bisa cepat pun itu
karena mujizat Tuhan. Saat mendengar itu aku kanget bukan kepalang tapi dokter
menasehati aku aku harus bersabar aku harus kuat dan jangan panik. Bantu ibu
untuk kuat.
Hari demi
hari aku lewati dengan berat, air mata pun selalu tumpah. Di kantor pun berusaha untuk tegar dan selau berusaha
tersenyum dan jika sendiri pasti Air mata ini tumpah dan ingat dengan ibu. Setelah
berjalannya waktu aku mulai menerima keadaan ini, Allah memberikan ini karena
aku kuat karena Allah sayang sama Aku.
Ikhtiar,
usaha dan doa kami usahakan untuk kesembuahan ibu kami, ibu yang kami sayangi. Tepat
hari minggu sepulang aku dari kerja tepat tanggal 02 februari 2013 kondisi ibu
turun dratis tensi ibu naik dratis sampai menembus 190/100 sangat tinggi dan
mengharuskan di bawa kerumah sakit. Saat itu pula aku mulai down kembali
perasaan ku mulai berkecamuk kembali. Tapi dalam hati kecil ku mulai berkata “jangan
kalah dengan keadaan aku pasti kuat aku pasti bisa menghadapi ini semua’’. Aku mulai
menghadapi ini semua dengan senyuman dengan hati lapang dengan strategi yang
baru.
Saat-saat
sulit itu kembali banyak kemudahan yang kami dapat, kami dapat dokter yang bisa
menguatkan kami, suster yang baik yang setia mendampingi kami saat kebingungan.
Kami melewati RS ke 2 dengan tegar dengan lapang dan dengan taktik baru. Kami (pada
saat itu yang ada hanya bapak mba da aku) saat itu berkata kepada ibu yang
sedang mengalami penurunan kesehatan “ ibu...sakit ibu sakit kami juga ibu
punya kami jadi sakit ibu kita hadapi bersama-sama ibu tidak sendirian, jadi
ibu yang sabar ibu yang kuat ibu yang semangat ibu pasti sembuh, Allah melihat
kita ibu Allah melihat usaha kita ibu, ibu pasti sembuh, inilah waktu mencari
ridho dan pahala dari Allah jika kita iklas. Saling mendoakan dan berusaha ya
ibu” saat itu ibu mulai tersenyum saat ibu mulai bisa tertawa. Bagi kami itu
suatu perkembangan yang berarti.
Saat melihat ibu bisa tersenyum dan tertawa
Tepat Tanggal
03 Februari hari senin aku bela-bela’in ijin kerja demi menjaga ibu ku. Yang ada
di bayangan aku tak ingin menyesal di kemudian hari, selagi ada waktu aku
pasti akan merawat ibu waktu ku hanya untuk ibu. Saat itu aku mengenakan baju
yang mirip untuk kampaye JOKOWI alias kotak-kotak. Aku saat itu bergaya ala
JOKOWI yang suka blusukan, saat itu ibu ku tertawa dan terhibur. Semua yang ada
di situ tertawa mba bapak dan lebih-lebih ibu bisa tertawa dengan tingkah aku. Saat
itu aku senang bisa menghibur ibu ku bisa membuat tertawa. Itu merupakan obat
bagiku dan bagi ibu ku.
Waktu mulai
berlalu langit pun mulai gelap saat itu aku pandang dari lantai 3 RS SARJITO dan
ibu mulai akan tidur, sesaat akan tidur ibu mulai merasakan sakit yang sangat
hebat lagi tepat nya di bagian sebelah kanan yang lumpuh. Aku pun panik dan
memangil dokter, dan seketika setelah di periksa dokter pun tak ada efek
pengaruh apapun ibu masih merasakan kesakitan dan seraya akan menangis. Tak sengaja
aku terceletuk “sambil aku elus-elus bagian yang sakit aku celetuk ‘hus hus
sakit nya hilang sakitnya pergi hus hus hus kodok e menculat lungo kono , saat
itu ibu ku tertawa dan bilang “wolah dasar JOKOWI sing lagi blusukan” sesaat
itu semua yang ada di situ tertawa kembali dan ibu lupa akan sakitnya. Dalam hati
yeee bisa menengkan ibu tanpa obat.
Hari demi
hari aku lewati di RS Sarjito dan sampai akhirnya ibu ku di nyatakan boleh
pulang. Kami hadapi kondisi itu dengan tenang kami hadapi dengan senyuman kami
jalani dan berusaha untuk iklas menerima semua ini. Ibu mulai menerima dan
setiap melihat ku selalu tertawa, saat sakit pun bisa terkalahkan jika aku
berbuat yang sangat aneh dan lucu.
Setiap waktu
aku tak ingin lewatkan untuk memantau kondisi ibu ku. Walau kadang hanya lewat
telepon genggam. Dan setiap waktu aku berusaha untuk bersyukur kepada sang
pencipta Allah swt yang masih memberikan waktu untuk aku merawat dan menyayangi
ibu ku. Aku masih sangat berutung masih di berikan waktu untuk memberikan yang
terbaik untuk ibu ku. Walau kadang penyesalan sering menghatuiku yang kurang
memperhatikan kesehatan ibu.
Ibu maafin anak
mu ini ya... yang enggak peka dengan kesehatan ibu, andai saja waktu itu aku peka
dan segera bawa ibu untuk cek up terus ke dokter pasti ibu tidak akan berakibat
fatal seperti ini. Ibu walau bisa di katakan telat dalam hati Arum yang paling tulus,
Arum sayang sama ibu, Maaf ibu Arum belum bisa membalas dan mewujudkan impian
ibu. Setulus sayang untuk mu ibu dan sebait doa “ Ya Allah Angkat lah segera
penyakit ibu hamba berikan kesembuhan untuk ibu hamba dan kuatkan lah ibu dan
kami semua untuk menghadapi ujian-Mu ini, serta ijinkan aku untuk membahagiakan
ibu hamba dengan mewujudkan impian nya Ya Allah ( impian ibu: saya bisa bekerja
di jalur PNS dan melihat saya menjadi pengantin).
IBU ARUM
SAYANG SAMA IBU, PELUK CIUM UNTUKMU IBU......LOVE U